Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 10 Desember 2010

Merajut Kecerdasan Manusia

BAB II
PEMBAHASAN

Merajut kecerdasan manusia

Salah satu pengertian kecerdasan yang paling banyak digunakan adalah konsep kecerdasan yang dipaparkan oleh Wechsler. Kecerdasan menurut Wechsler didefenisikan sebagai konsep generik yang melibatkan kemampuan individual untuk berbuat dengan tujuan tertentu. Sedangkan menurut Chaplin(1975) kecerdasan merupakan kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Dan menurut teori lama Anita E. Woolfolk (1975) kecerdasan meliputi 3 pengertian, yaitu:

1.      Kemampuan untuk belajar.
2.      Keseluruhan pengetahuan yang diperoleh
3.      Kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, dikenal ada 3 jenis kecerdasan, yaitu: kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan intelektual diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi Prancis abad ke-20. Dalam kecerdasan ini, kajiannya hanya sebatas kemampuan individu yang bertautan dengan aspek kognitif saja. Kemudian timbul kajian Emosional Quotient (EQ) oleh pakar psikologi, Daniel Goleman (1997). Emosional Quotient (EQ) dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi prestasi seseorang. Goelman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali diri sendiri dan orang lain. Kemudian pengembangan riset oleh V. S. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia. Dalam God Spot ini, merupakan pusat spiritual manusia dan terletak di antara jaringan otak dan syaraf. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman secara bersama untuk hidup lebih bermakna dan di sinilah terdapat fitrah manusia (Spiritual Quotient).
Menurut Gardner menggagas teori multiple inteligence (kecerdasan ganda) yang memaparkan beberapa kecerdasan yang terdapat dalam diri manusia. Di antaranya yaitu:
1.      Kecerdasan matematik-logika (analisa)
2.      Kecerdasan bahasa (linguistic)
3.      Kecerdasan musik
4.      Kecerdasan visual (pandai berimajinasi)
5.      Kecerdasan kinestetik (pandai dalam olah raga fisik)
6.      Kecerdasan inter-personal (peka dengan perasaan orang lain)
7.      Kecerdasan intra-personal (peka pada diri sendiri)
8.      Kecerdasan naturalistik (bersahabat dengan alam)

Pada dasarnya kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) berpangkal pada kecerdasan spiritual (SQ) yang dapat membuat seseorang tidak hanya mengejar kesuksesan dunia dengan IQ dan EQ yang ia miliki untuk dirinya sendiri dengan menghalalkan segala cara. Karena itu, Spiritual Quotient (SQ) merupakan pengendali terhadap segala sesuatu yang dikerjakan oleh manusia.

2.1. Kecerdasan Intelektual Intellegence Quotient (IQ)

Kecerdasan Intelektual Intelligence Questient (IQ) merupakan kecerdasan dasar yang berhubungan dengan proses kognitif, pembelajaran (kecerdasan intelektual) kecenderungan menggunakan kemampuan matematis-logis dan bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung dan menjawab). Kecerdasan ini sering kita kenal dengan kecerdasan rasioanal, karena menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah. Tingkat kecerdasan intelektual seseorang dapat di uji melalui tes, yakni dengan ujian daya ingat, daya nalar, penguasaan kosa kata, ketepatan menghitung, dan menganalisis data.
Kecerdasan Intelektual Intelligence Questient (IQ) muncul sejak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, sejak sejak anak berada di dalam kandungan (masa pranata) sampai tunbuh menjadi dewasa. Kecerdasan rasional ini merupakan aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas seseorang dalam perolehan pembelajaran.
Proses kerja Intelligence Questient (IQ) terkenal dengan linier. Pertanyaan menimbulkan jawaban dalam hal yang begitu mirip dengan cara neuron (sel saraf mencari) neuron lain. (Covey, Steven, 2004).
Intelegensi adalah suatu konsep yang dioperasionalisasikan denagn suatu alat ukur, dan keluaran dari alat ukur inilah yang berupa IQ. Angka yang keluar adalah angka berdasarkan satuan tertentu. Semacam ’gram’ untuk ’berat’ dan ’meter’ untuk ’jarak’. Konsep inilah yang harus diluruskan agar tidak menimbulkan beragam penafsiran: IQ adalah satuan ukur.
Ketika disadari seiring berjalannya waktu, manusia mulai menyadari bahwa faktor emosi tidak kalah pentingnya dalam mendukung sebuah kesuksesan, bahkan dipandang lebih penting dari pada kecerdasan intelegensi. Daniel Goleman, walaupun bukan pencetus pertama, telah mempopulerkan pada pertengahan 1990-an. Seperti juga IQ, konsep kecerdasan emosi ini dioperasionalkan menjadi alat ukur dan keluarannya disebut EQ.

2.2. Kecerdasan Emosi Emotional Quotient (EQ)

Daniel Goleman melalui bukunya yang terkenal ”Emotional Intelligence” atau kcerdasan emosional. Dari ke delapan spektrum kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner di atas, Goleman mencoba memberi tekanan pada aspek kecerdasan intra-personal atau antar pribadi. Inti dari kecerdasan ini adalah mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat antar pribadi ini lebih menekankan pada aspek kognisi atau pemahaman. Sementara faktor emosi atau perasaan kurang diperhatikan. Padahal menurut Goleman, faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna yang kaya dalam kecerdasan antar-pribadi ini.
Kemudian tokoh-tokoh seperti Stenberg, Bar-On, dan Salovey, sebagaimana yang diungkapkan oleh Goleman, disebutkan adanya Lima domain kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional, yaitu ;
a.       Kemampuan mengenali emosi diri
Kemampuan mengenali emosi diri merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu mengenali emosinya sendiri adalah bila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap.
b.      Kemampuan mengelola emosi
Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilaku secara salah.
c.       Kemampuan memotivasi diri
Kemampuan memotivasi diri merupakan kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untukmelakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga seseorang memilki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu.
d.      Kemampuan mengenali emosi orang lain. (Empati)
Kemampuan mengenali emosi orang lain merupakan kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Seseorang yang memiliki kemampuan ini sering disebut dengan orang yang memiliki kemampuan berempati, mampu menangkap pesan non-verbal dari orang lain seperti: nada bicara, gerak-gerik, maupun ekspresi wajah. Dengan demikian orang tersebut lebih disukai teman-temannya dan orang lain.

e.       Kemampuan membina hubungan sosial
Kemampuan membina hubungan sosial merupakan kemampuan untuk memngelola emosi orang lain, sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebihn luas.
Kemudian dapat kita tarik kesimpulan bahwa betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri peserta didik. Karena betapa banyak kita jumpai peserta didik, dimana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun bila tidak dapat mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa atau angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada peserta didik sedini mungkin, karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.
Dalam hal ini orang tua maupun guru memegang peranan penting untuk pengembangan potensi kecerdasan emosionalnya. Sebab, para ahli berpandangan bahwa kecerdasan anakpun sangat dipengaruhi oleh berbagai rangsangan-rangsangan mental yang kaya sejak dini. Contoh nyata, berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, lebih banyak tersenyum dari pada cenberut merupakan hasil didikan kecerdasan moralnya yang dimulai sejak dini.
Menurut Reuven Bar-On kecerdasan emosi didefinisikan sebagai mata rantai keahlian, kompetensi dan kemampuan non-cognitive yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menghadapi tuntutan dan tekanan lingkungnnya. Hal ini mencakup sebagai faktor dan lebih mempengaruhi potensi kinerja dibanding kinerja itu sendiri, merupakan suatu proses ketimbang tujuan akhir.
Emotional Quotient (EQ) menampilkan lima dimensi kecerdasan emosional sebagai berikut ;

1.      Intrapersonal EQ
a)      Self Regard merupakan kemampuan untuk dapat menghargai dan menerima sifat dasar pribadi yang pada dasarnya baik.
b)      Emotional Self-awareness merupakan kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri.
c)      Assertiveness merupakan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan, keyakinan, dan pemikiran serta mempertahankan hak pribadi secara konstruktif..
d)     Independence merupakan kemampuan untuk dapat mengarahkan dan mengendalikan diri dalam berpikir dan bertindak serta menjadi lebih bebas secara emosional.
e)      Self-actualization merupakan kemampuan menyadari kapasitas potensi diri.

2.      Interpersonal EQ
a)      Empathy merupakan kemampuan memahami, mengerti, serta menghargai persaaan orang lain.
b)      Social Responsibility merupakan kemampuan untuk menampilkan diri secara kooperatif, kontributif, dan konstuktif sebagai anggota kelompok masyarakat.
c)      Interpersonal Relationship merupakan kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang saling menguntungkan yang tercermin dari kedekatan afektif serta keinginan untuk saling memberi dan menerima.
3.      Adaptability EQ
a.      Reality Testing merupakan kemampuan untukmenghubungkan antara pengalaman dan kondisi saat ini secara obyektif
b.      Flexsibility merupakan kemampuan untuk menyesuaikan emosi, pemikiran, dan sikap terhadap perubahan suatu situasi dan kondisi.
c.       Problem Solving merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah hingga mendapatkan dan menerapakan solusi secara efektif.

4.      Stress Management EQ
a.       Stress Tolerance merupakan kemampuan untuk menghadapi kejadian dan situasi yang penuh tekanan, dan menanganinya secara aktif dan positif tanpa harus terjatuh.
b.      Impulse Control merupakan kemampuan untuk menunda keinginan, drive dan dorongan untuk bertindak.
5.      General Mood EQ
a.       Optimisme merupakan kemampuan untuk melihat sisi terang kehidupan dan memelihara sikap positif, meski disaat yang tidak menyenagkan.
b.      Happiness merupakan kemampuan untuk merasa puas akan kehidupan, menikmati kehidupan pribadi dan orang lain, bersenang-senang dan mengekpresikan emosi yang positif.

2.3. Kecerdasan Spiritual Spiritual Quotient)

Kecerdasan Spiritual (SQ) merupakan kemampuan individu terhadap mengelola nilai-nilai, norma-norma dan kualitas kehidupan dengan memanfaatkan kekuatan-kekuatan pikiran bawah sadar atau lebih dikenal dengan suara hati (God Spot).
Kecerdasan Spiritual (SQ) yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan emosional menjadi syarat penting agar manusia lebih memaknai hidup dan menjalani hidup penuh berkah. Terutama pada masa sekarang, dimana manusia modern terkadang melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu.
Manusia modern adalah manusia yang mempunyai kualitas intelektual yang memadai, karena telah menempuh pendidikan yang memadai pula. Salah satu ciri ynag kental dalam diri manusia modern adalah suka membaca. Namun, terkadang kualitas intelektual tersebut tidak dibarengi dengan kualitas iman atau emosional yang baik, sehingga berkah yang diharapkan setiap manusia dalam hidupnya tidak dapat diperoleh.

2.4. Urgensi IQ, EQ, dan SQ dalam Proses Pendidikan

Manusia memiliki tiga kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasaan emosi, dan kecerdasan spiritual. Ketiga kemampuan ini sangat membantu seseorang dalam meningkatkan kualitas diri. Apabila mengabaikan salah satu kemampuan tersebut menyebabkan banyak individu dililit masalah secara pribadi maupun sosial masyarakat. Hal ini dikarenakan selama ini mayarakat mempercayai dan mengagung-agungkan secara dominan salah satu kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual (IQ).
Dengan munculnya teori kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ), yang sebelumnya juga telah dikenal dengan kecerdasan intelektual (IQ), maka ketiga teori kecerdasa ini dapat diaplikasikan sebagai pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang lebih memahami kemampuan intra personal dan interpersonal pendidik dan pesrta didik, sehingga kemampuan afektif peserta didik yang berbeda tidak bisa didekati dengan metode pembelajaran yang sama.
Kemudian, dalam dunia pendidikan sangatlah penting untuk mengaplikasikan ketiga teori kecerdasan ini, untuk itu lembaga-lembaga pendidikan yang ada seharusnya melaksanakan teori ini dengan sebaik-baiknya. Sehingga dapat melahirkan dan menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas.

Konsep Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ dalm Proses Pembelajaran

Kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi tidak menjamin seseorang dapat meraih kesuksesan sesuai yang dia inginkan. Karena seseorang yang mempunyai tingkat intelektualitas yang tinggi namun memiliki kecerdasan emosi (EQ) yang rendah maka sering kali ia gagal karena tidak bisa mengendalikan emosi, berempati dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi. Namun, kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) harus dilandasi dengan kecerdasan spiritual (SQ) yang mengontrol segala perilaku manusia baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Oleh karena itu, sekolah maupun perkuliahan sebagai salah satu lembaga pendidikan yang akan memasok kebutuhan sumber daya manusia pada masyarakat, berusaha menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di bidangnya tapi juga memiliki sikap dan perilaku yang beretika. Karena itu dalam sekolah dan perkuliahan juga diberikan mata pelajaran yang menunjang terbentuknya karakter peserta didik seperti ; agama, kewarganegaraan, dan kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah atau di kampus.

2.5. Keharusan Guru dan Dosen (Pendidik) Memiliki Kecerdasan Ganda

Perkembangan zaman mengharuskan individu untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memanfaatkan segala fasilitas untuk menyejahterakan masyarakat, maka lembaga pendidikan di Indonesia telah dihadapkan pada peluang sekaligus tantangan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang dapat mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan iman dan taqwa (imtaq). Salah satu komponen dari lembaga pendidikan yang memasok tercapainya tujuan tersebut adalah adanya guru atau dosen (pendidik) yang profesional. Untuk mewujudkan guru yang profesional. Dibutuhkan kecerdasan ganda yaitu IQ, EQ dan SQ. Dengan tanpa mempertentangkan mana yang lebih penting antara IQ, EQ maupun SQ, ketiganya ini merupakan konsep-konsep untuk mengembangkan kepintaran berganda (multiple inteligence) baik dalam dunia sekolah maupun di luar sekolah. Untuk anak-anak dan para siswa sengaja dirancang berbagai program dan pelatihan agar mereka memiliki kecerdasan berganda sehingga menjadi generasi muda bisa hidup indah, mudah dan jauh dari gelisah. Peran guru sebagai edukator, motivator, counselor dan lain sebagainya mengharuskan seorang guru memiliki kecerdasan berganda. Mereka adalah guru yang cerdas kognitif, affektif dan psikomotornya. Dan pendidik yang seperti inilah yang menjadi guru spesial bagi anak didiknya. Melalui upaya belajar learning to do, learning to know (IQ), learning to be (SQ), learning to live together (EQ) yang di asah secara terus menerus sehingga terbentuk pendidik yang professional.
Sebagai pendidik (calon pendidik) bertugas membelajarkan para peserta didik untuk dapat mengembangkan segala potensi diri (fitrah) yang dimilikinya melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (meaning learning) (SQ), menyenangkan (joyful learning) (EQ), dan menantang (problematical learning) sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang kaffah (sempurna).
Seorang guru harus mempunyai paradigma bagaimana menjadi guru, dosen (pendidik) yang bermartabat dan professional. Paradigma ini dapat dicapai jika mereka mengembangkan diri. Jika peserta didik diusahakan untuk memiliki kecerdasan berganda, maka pendidik juga harus memiliki kecerdasan berganda.






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada dasarnya manusia diciptakan dengan membawa unsur-unsur kecerdasan. Awalnya kecerdasan yang dipahami banyak orang hanya merupakan
kecerdasan intelejensi (Intelegency Quotient), sesuai dengan perkembangan
pengetahuan manusia, maka ditemukan tipe kecerdasan lainnya melalui penelitian-
penelitian empiris dan longitudinal oleh para akademisi dan praktisi psikologi,
yakni kecerdasan emosional (emotional quotient) dan kecerdasan spiritual
(spiritual quotient). Ketiga bentuk kecerdasan ini tidak dapat berdiri sendiri
untuk meraih kesuksesan dalam bekerja dan kehidupan. Kesuksesan paripurna adalah
jika seseorang mampu menggunakan dengan baik ketiga kecerdasan ini,
menyeimbangkannya, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan. Bagi para pekerja
dalam lingkungan organisasi manapun ketiga bentuk kecerdasan ini adalah sesuatu
yang mutlak harus dimiliki, kesuksesan dalam karir tidak hanya dimiliki oleh
karyawan-karyawan yang berintelejensi tinggi saja, namun semua orang dapat meraih
kesuksesan karir, dan memperoleh tempat terbaik dalam bekerja.
2.1. Topik
1. Kecerdasan Intelektual (IQ)
2. Kecerdasan Emosional (EQ)
3. Kecerdasan Spiritual (SQ)
4. Urgensi IQ, EQ, dan SQ dalam Proses Pendidikan
5. Keharusan Guru Memiliki Kecerdasan Ganda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar